Jumat, 07 Juni 2013

Ciri-ciri Akhlak Dalam Islam



Ketahuilah bahwa akhlak menempati posisi penting dalam ajaran Islam. Hal tersebut dijelaskan di dalam hadis dari Abu Hurairah;
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- : إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَقِ
Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan ahlak” (HR. Imam Baihaqi)
Apa sebenarnya akhlak itu? Kata ‘akhlak’ berasal dari bahasa Arabakhlâq. Kata tersebut merupakan bentuk jamak dari kata khuluq yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku dan tabi’at. Kata ‘akhlak’ juga berasal kata khalaqa yang artinya menciptakan. Seakar dengan katakhâliq (pencipta), makhluq (yang diciptakan) dan khalq (penciptaan). Maka secara tidak langsung akhlak merupakan cerminan dari fitrah penciptaan manusia. Fitrah artinya suci, bersih, murni, maka akhlak menghendaki adanya kemurnian, kebersihan dari berbagai macam keburukan sebagaimana asal penciptaan manusia.
Secara istilah, Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Lc., M.Ag. menjelaskan bahwa akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia, sehingga dia akan muncul secara spontan bilamana diperlukan, tanpa memerlukan pemikiran atau pertimbangan lebih dulu, serta tidak memerlukan dorongan dari luar. Dari definisi tersebut akhlak dapat dipahami sebagai perbuatan yang dikerjakan berulang-ulang sehingga menjadi kebiasaan (habit).
Apa fungsi akhlak dalam Islam? Akhlak berfungsi sebagai inti keimanan seseorang. Ketika Rasulullah saw. ditanya mengenai iman, beliau menjawab sesungguhnya iman adalah akhlak yang baik dan orang yang terbaik diantara manusia adalah yang terbaik akhlaknya.
عَنْ أَبِيْ أَمَامَةَ : عَنِ النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ : إِنَّ مِنَ اْلأِيْمَانِ حُسْنُ اْلخُلُقِ وَأَفْضَلُكُمْ إِيْمَانًا أَحْسَنُكُمْ خُلقًا
“Dari Abi Amâmah: Dari Nabi saw berkata: “Sesungguhnya (inti) iman adalah akhlak yang baik, yang terbaik diantara kalian adalah yang terbaik akhlaknya.” (HR. Tabrani dalam Kitab Mu’jam Al-Kabîr). 
Fungsi akhlak, selain yang disebutkan di atas, adalah sebagai faktor yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga sebagaimana hadis berikut;
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سُئِلَ النَّبِيَ صَلىَ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ عَنْ أَكْثَرَ مَا يَدْخُلُ النَّاسَ اْلجَنَّةَ قَالَ : التَقْوَىْ وَ حُسْنُ اْلخُلُقِ وَ سُئِلَ عَنْ أَكْثَرَ مَا يَدْخُلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ : الأَجْوِفَانِ اْلفَمُ وَ اْلفَرْجُ
“Dari Abu Hurairah ra. berkata, “Rasulullah saw. ditanya mengenai apa-apa yang paling banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, lalu beliau menjawab: taqwa dan akhlak yang baik, dan beliau ditanya lagi mengenai apa-apa yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka, maka beliau mengatakan: yakni orang yang tidak dapat menjaga mulut dan farjinya.” (HR. Al-Hakim dalam Kitab Mustadrak)
Lantas apa ciri-ciri akhlak? Karakteristik akhlak Islam sebagai berikut;
Tolak ukur baik dan buruknya akhlak adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah
Akhlak dalam Islam berbeda dengan moral dan etika. Dalam akhlak, tolak ukur baik dan buruknya disandarkan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Bukan dari pemikiran, meskipun tidak menutup kemungkinan akhlak dapat dirasionalkan hikmah dan manfaatnya. Sementara etika ukuran baik dan buruknya disandarkan pada pemikiran, sementara moral tolak ukurnya disandarkan pada kebiasaan masyarakat.
Berlaku universal
Ciri akhlak selanjutnya adalah berlaku universal, artinya akhlak Islam dapat diterapkan kapan dan dimana saja. Dalam bahasa lainnya shâlih likulli zamân wa al-makân. Hal tersebut tidak lain karena ajaran Al-Qur’an berlaku universal, sehingga perintah-perintahnya berlaku secara universal juga. Kalau Islam diyakini sebagai rahmat untuk semesta alam, maka perintahnya pasti berdampak positif bila diterapkan dimana saja. Berbeda dari moral dan etika, keduanya berlaku temporal, bahkan lokal. Kadang di sebuah tempat sesuai, namun di tempat lain tidak sesuai.
Sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan
Ciri akhlak berikutnya adalah tidak pernah bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan, bahkan cenderung menjaga nilai-nilai kemanusiaan. Kalau nilai-nilai kemanusiaan ukurannya adalah HAM, maka sesungguhnya Islam sejak dulu, jauh sebelum HAM itu terbentuk sudah melaksanakan HAM. Sebagai contoh kebebasan beragama. Islam sudah menegaskannya dalam Al-Qur’an, “jika kamu ingin beriman, berimanlah. Jika kau ingin kafir maka kafirlah.”Dalam ayat yang lain juga dijelaskan,  “tidak ada paksaan dalam beragama….” Meskipun tidak ada paksaan, manusia diberi kemampuan akal untuk memilih dan memilah mana di antara agama-agama yang ada itu yang benar. Maka ayat tersebut dilanjutkan, “sesungguhnya sudah jelas mana jalan yang benar dan mana jalan yang salah.”
Contoh lainnya adalah kebebasan berpendapat dan memilih. Dalam Islam kebebasan berpendapat sangat dianjurkan. Islam hanya mengatur etika berpendapat, tidak mengekang atau menghalang-halangi, sehingga pendapat yang dikeluarkan seseorang tidak asal, dan menggunakan cara yang baik. Kadang-kadang pendapat yang baik ditolak, lantaran cara penyampaiannya tidak baik. Begitu juga sebaliknya pendapat yang buruk dapat diterima, lantaran menggunakan cara yang baik. Maka dari itu Rasulullah menegaskan;
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآَخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah (berpendapatlah) yang baik, kalau tidak bisa, lebih baik diam.” (HR. Muslim)
Islam membebaskan manusia untuk memilih pendapat apapun, namun Islam memberi batasan etika cara memilih pendapat. Dijelaskan dalam Al-Qur’an, “orang-orang yang mendengarkan pendapat, lalu memilih pendapat yang terbaik, maka mereka itulah yang mendapatkan petunjuk. Mereka itulah yang disebut orang-orang yang berakal.” Dari ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa memilih boleh tapi tidak asal.
Dari contoh-contoh di atas jelas sekali bahwa Islam tidak bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan.
Akhlak dapat dijadikan parameter (cermin) keimanan seseorang
Akhlak dalam Islam selalu berhubungan dengan iman. Bahkan keduanya tidak dapat dipisahkan. Dalam Al-Qur’an kata iman dan amal shaleh disebutkan berbarengan sebanyak 50 kali. Dalam hadis pun bentuk-bentuk perbuatan baik selalu dikaitkan dengan iman. Misal saja malu sebagian dari iman. Kebersihan sebagian dari iman. Berbuat baik kepada tamu, tetangga dan berkata yang baik merupakan karakter orang beriman. Dari contoh-contoh tersebut dapat disimpulkan bahwa iman tanpa amal soleh tidak ada artinya. Amal soleh tanpa iman akan sia-sia. Sehingga amal soleh bagi seorang muslim menjadi parameter keimanan, kKeduanya berbanding lurus. 
Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan
Ajaran Islam adalah ajaran yang paling sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Banyak sekali bukti ilmiah yang menggambarkan hal ini. Belakangan penelitian-penelitian kontemporer di Eropa menunjukkan hal yang menakjubkan, sebagai contoh dalam penelitian yang dilakukan Neal Krause. Ia menemukan bahwa orang yang suka mendoakan orang lain berdampak mengurangi kesusahan kesehatan di masa tua. Ternyata hal ini sesuai dengan perintah Nabi yang menganjurkan mendoakan orang lain tanpa perlu diketahui siapa yang didoakan.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَسْرَعَ الدُّعَاءِ إِجَابَةً دَعْوَةُ غَائِبٍ لِغَائِبٍ
Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya do’a yang paling cepat dikabulkan adalah do’a orang yang ghaib (tidak hadir) untuk saudaranya yang tidak hadir.” (HR. Abu Dawud)
Penelitian lainnya juga menjelaskan bahwa remaja yang suka memberi dapat mengurangi resiko depresi dan bunuh diri. Hal ini sesuai dengan perintah Nabi yang menjelaskan bahwa bersilahturahmi dapat memperpanjang umur.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ أَوْ يُنْسَأَ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Dari Anas bin Malik dia berkata; Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezkinya, atau ingin dipanjangkan usianya, maka hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (HR. Muslim)
Dua contoh di atas menjadi bukti bahwa ajaran Islam, termasuk di dalamnya akhlak, ternyata sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
Penulis: Hatib Rachmawan, S.Pd., S.Th.I (Dosen Studi Islam di Univ. Ahmad Dahlan, Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PWM DIY)

0 komentar:

Poskan Komentar